Terms of Reference Gambaran Umum Materi Sekolah HAM Mahasiswa (SeHAMA) 2011

22.19



I. Latar Belakang


Sekolah Hak Asasi Manusia Untuk Mahasiswa (SeHAMA) merupakan pelatihan HAM yang dirancang oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) bagi mahasiswa di seluruh Indonesia. Agenda pelatihan ini merupakan bagian dari pengembangan wacana hak asasi manusia sebagai bentuk dari kepedulian dan tanggung jawab KontraS untuk memajukan kesadaran masyarakat tentang pentingnya penghargaan terhadap nilai-nilai hak asasi manusia. Mahasiswa adalah subjek dari pelatihan ini. Peran mahasiswa di tengah lingkungan sosialnya, menempatkan mahasiswa tidak sekadar sebagai agen perubahan sosial namun juga dengan daya intelektualitasnya mampu memajukan peradaban bangsa yang berprinsip pada nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia.

Mahasiswa juga memiliki peranan kontrol sosial terhadap realitas sosial yang tidak mengedepankan nilai-nilai keadilan akibat dari masih banyaknya ketidakadilan struktural yang terjadi di negara ini. Dalam konteks ini adalah praktik-praktik penyalahgunaan wewenang bercorak pelanggaran HAM. Dewasa ini pengembangan wacana HAM telah menjadi bahasa sehari-hari dan telah digunakan baik di kalangan birokrasi, militer, maupun di kalangan masyarakat umum. HAM bukan lagi menjadi kosakata eksklusif yang hanya dimiliki oleh para pegiat/aktivis HAM bahkan pengacara saja. HAM juga bukan lagi menjadi kosakata ‘kotor’ dalam leksikon politik di Indonesia. Namun pada kenyataannya, masih banyak dari mahasiswa Indonesia mengalami kontradiksi eksistensi dalam menghubungkan peran dan status sosial yang mereka miliki dengan dinamika HAM yang berkembang begitu dinamis akhir-akhir ini. Dengan demikian, pelatihan ini memiliki semangat untuk mengkristalkan pembentukan human rights culture di tengah masyarakat dengan luas, melibatkan elemen mahasiswa sebagai motor gerakannya. 

Pengembangan wacana hak asasi manusia yang sehat akan sangat mendukung bagi terwujudnya harapan yang disebut di atas. Penyelenggaraan SeHAMA ini adalah media pendalaman kemampuan hukum dan HAM serta teknik-teknik advokasinya bagi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu.  Pendidikan ini diadakan dengan maksud agar para mahasiswa sebagai entitas yang penting dalam perjuangan HAM bisa mengembangkan diri sekaligus terlibat aktif memperjuangkan hak asasi manusia. Dalam pelatihan ini, akan dibahas soal seputar konsep dasar HAM, serta mahasiswa akan diajak untuk mengetahui kondisi bagaimana penegakan hak asasi manusia di lapangan dengan melaksanakan live in ke beberapa tempat terjadinya kasus-kasus pelanggaran HAM/korban.

II. Tujuan


  • Peserta memiliki pengetahuan soal HAM dan nilai nilai yang terkandung didalamnya;
  • Peserta memiliki pemahaman dasar mengenai nilai-nilai dan prinsip-prinsip pokok HAM, serta ruang lingkup permasalahan HAM baik tingkat nasional maupun internasional;
  • Peserta mampu menginternalisasikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip HAM agar bisa secara kongkrit diterapkan dalam keseharian;
  • Peserta mampu mengembangkan motivasi dan komitmen untuk melibatkan diri secara aktif  untuk memperjuangkan hak asasi manusia.






III. Materi

Teori dan Konsepsi tentang HAM


A) Latar Belakang

Perspektif HAM tidak lahir dari ruang hampa (ahistoris) sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Perspektif HAM lahir dari upaya manusia dalam mendefinisikan ’kemanusiaan’ dalam suatu konteks sistem sosiopolitik dan kultur tertentu. Konsepsi HAM selalu terbentuk karena adanya perbenturan antara kesadaran kolektif (collective consciences) dengan sebuah praktek empirik tertentu -secara dialektis- sepanjang sejarah manusia (historis). Melalui perspektif HAM manusia menemukan sudut pandang baru dalam memandang relasi sosial, sistem kemasyarakatan, dan otoritas negara. Dengan memahami locus dan momentum evolusi peradaban manusia lah, maka perspektif HAM bisa lebih bermakna dan kontekstual dalam memahami masalah-masalah kemasyarakatan di Indonesia.

B) Tujuan

  1. Peserta mengenal konsepsi-konsepsi dan kosa kata umum tentang HAM
  2. Peserta mengenal akar teoritik dalam perspektif HAM
  3. Peserta memahami konteks evolusi diskursus HAM

HAM sebagai Instrumen dan Mekanisme Hukum Internasional

A) Latar Belakang

Pasca-Perang Dunia II, komunitas internasional mulai mengadopsi gagasan-gagasan HAM menjadi instrumen hukum internasional sejak dikumandangkannya Universal Declaration of Human Rights pada 10 Desember 1948. Sejak saat itu proliferasi HAM sebagai instrumen hukum internasional mengalami pembesaran dan perluasan yang luar biasa. HAM ’dirumahkan’ menjadi konvensi-konvensi dan segera diratifikasi banyak negara. Hingga kini, tidak ada satu pun negara di dunia yang tidak meratifikasi suatu konvensi HAM. Sebagai sebuah prinsip dan norma, HAM kemudian juga diinstitusionalisasikan di berbagai mekanisme internasional atau regional. Tidak berhenti di situ, HAM juga kemudian diadopsi menjadi seperangkat norma hukum di tingkat nasional, baik itu ditegaskan oleh konstitusi atau produk perundang-undangan lainnya. HAM segera menjadi peradaban universal, paling tidak dalam konteks normatif. Peradaban HAM ini juga segera menerpa Indonesia setelah tumbangnya Orde Baru. Indonesia menginkorporasikan norma-norma HAM dalam konstitusi, undang-undang, dan membangun mekanisme HAM nasional khusus.

B) Tujuan

  1. Peserta memahami HAM sebagai instrumen dan mekanisme hukum internasional
  2. Peserta memahami mekanisme nasional HAM di Indonesia.

Mengenal Ketrampilan Advokasi berbasis HAM

A) Latar Belakang

Mengikuti evolusi normatif HAM, gagasan HAM kemudian segera menjadi rujukan moral dan politis bagi para korban-korban kekerasan, kelompok tertindas (organisasi petani, buruh, urban poor, kelompok minoritas, atau indigenous people). HAM seolah-olah menjadi rujukan ideologis dan digunakan sebagai instrumen perjuangan bagi para kelompok tertindas dan kaum marginal. HAM di satu sisi sebagai suatu rujukan cita-cita moral ideal kemudian berbaur dengan berbagai metode perjuangan. Pada titik ini HAM  kemudian menjelma menjadi suatu metodologi advokasi yang diperlengkapi dengan berbagai pilihan strategi dan taktik.

B) Tujuan

  1. Peserta mengenal prinsip-prinsip dasar dan metode investigasi berperspektif HAM
  2. Peserta mengenal model-model dan teknik advokasi HAM

Membangun ’Sense’ dan Perspektif HAM yang Berorientasi pada Korban

A) Latar Belakang

Meski banyak upaya untuk mengembangkan perspektif HAM yang ’rasional’ dan ’ilmiah’, diskursus HAM justru ’mendunia’ karena empati dan ’sense’ banyak orang tergugah oleh pengalaman derita para korban pelanggaran HAM atau cerita teladan kepahlawanan para pejuang HAM. Dunia marah karena terjadinya praktek genosida di masa PD II, di Balkan pasca-Tembok Berlin roboh, di Rwanda di mana nyaris satu juta orang dibantai hanya dalam 3 bulan, ’ladang pembantaian’ di Kamboja, dan juga pembantaian massal di Indonesia pada 1965-1966. Dunia tergugah oleh keberanian Martin Luther King, Nelson Mandela, Aung Sang Suu Kyi, termasuk juga Munir.

B) Tujuan

  1. Peserta memiliki pemahaman ’khusus’ lewat pengalaman langsung bertemu dengan para korban pelanggaran HAM
  2. Peserta terbangun ’sense-nya’ dalam bertemu dengan mereka yang menjadi korban pelanggaran HAM

Mengenal Persoalan Keadilan Transisional (Transitional Justice)

A) Latar Belakang

Tidak bisa dipungkiri pasca tumbangnya rezim Soeharto berbagai ruang kebebasan sipil semakin terbuka dan negara secara formal mengadopsi HAM sebagai salah satu sumber acuan kebijakan. Sayangnya perubahan tersebut belum menyentuh secara langsung para komunitas korban yang dalam sistem lama mengalami penderitaan luar biasa, namun di dalam sistem yang baru masih terabaikan. Persoalan bagaimana menata sistem keadilan di masa kini berdasarkan problem masa lalu merupakan salah satu tema HAM yang paling kontekstual dan aktual di negeri-negeri yang sedang menjalani transisi demokrasi. Tema ini pun tetap kontekstual di Indonesia di mana pengalaman pahit di masa lalu ternyata belum juga menjadi modal pembelajaran  bagi masa depan. Masyarakat belum bisa menarik suatu korelasi masalah antara pengabaian terhadap pelanggaran HAM masa lalu dengan problem reformasi negara saat ini.

B) Tujuan

  1. Peserta mengenal konsep-konsep kunci dasar transitional justice
  2. Peserta mengenal agenda-agenda utama transitional justice: truth seeking, justice, reparation, dan institutional reform
  3. Peserta bisa mengidentifikasi persoalan-persoalan pokok transitional justice dalam konteks Indonesia


Mengenal Reformasi Sektor Keamanan (Security Sector Reform)

A) Latar Belakang

Salah satu akar masalah dari pelanggaran HAM yang terjadi di masa Orde Baru adalah begitu represifnya aktor-aktor sektor keamanan, yang mencakup militer, kepolisian, dan intelijen. Di era Reformasi, salah satu agenda yang menonjol selain upaya perbaikan legislasi yang lebih pro-HAM adalah dengan menata ulang institusi-institusi keamanan dan pertahanan. Agenda ini lebih dikenal sebagai Reformasi Sektor Keamanan (Security Sector Reform) yang didasari pada prinsip demokrasi, kontrol sipil (civilian oversight), supremasi hukum, dan penghormatan terhadap HAM. Selama lebih dari 10 tahun RSK berjalan, berbagai kemajuan –di tingkatan legislasi dan institusi- telah berjalan, namun di lain pihak masih terdapat agenda lain yang tidak berjalan.

B) Tujuan

  1. Peserta mengenal konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar Security Sector Reform
  2. Peserta mengenal agenda-agenda prioritas Security Sector Reform; militer, kepolisian, dan intelijen

IV. Metode Pelatihan 
Metode ini menggunakan metode partisipatif. Di mana para peserta dapat berpartisipasi secara aktif dalam belajar selama pelatihan. Kegiatan-kegiatan dalam pelatihan ini akan dipimpin  fasilitator meliputi: ceramah singkat, diskusi kelompok, pemutaran film dan latihan (studi kasus).

V. Proses dalam SeHAMA


Pembukaan 

Pada pembukaan akan dijelaskan secara singkat mengenai maksud dan tujuan pelatihan, serta hal-hal teknis yang menyangkut penyelenggaraan pelatihan  

Kontrak Belajar 

Dalam sesi ini akan dijelaskan mengenai gambaran umum pelaksanaan, alur proses secara keseluruhan, bahan belajar yang digunakan, tujuan dan harapan yang ingin dicapai, serta kontrak belajar untuk menjaga keberlangsungan proses pelatihan.

Penyampaian Materi 

Materi akan diberikan sebanyak 35 materi. Di mana peserta berkewajiban untuk menghadiri pelatihan minimal 70 % waktu kehadiran. Setiap peserta juga diwajibkan untuk mengerjakan tugas-tugas pelatihan paska penyampaian materi. Di samping itu, peserta diharapkan bisa melakukan mengorganisir dirinya secara berkelompok untuk bekerjasama dalam mengerjakan tugas-tugas pelatihan. 

Live In 

Metode ini merupakan ajang internalisasi para peserta terhadap para korban/keluarga korban pelanggaran HAM. Sekaligus nanti para peserta melakukan pencatatan, inventaris persoalan yang dihadapi para korban. Mulai dari kondisi sosial, masalah ekonomi, politik dan kasusnya.


Investigasi Lapangan 

Investigasi lapangan dilakukan untuk menguji sampai sejauh mana pemahaman peserta dengan materi investigasi. Peserta ditantang untuk mendapatkan bahan dari kasus yang sudah ditentukan. Keberhasilan peserta akan terlihat melalui bagaimana proses tersebut dilakukan, mulai dari penggalian data, temuan-temuan di lapangan dan bagaimana membuat sebuah laporan.


Rencana Tindak Lanjut 
Kegiatan ini dilakukan untuk menyusun rencana yang berkaitan dengan tindak lanjut pasca pelatihan, baik individu maupun kelompok. Rencana dan agenda kegiatan yang disusun merupakan rencana kegiatan yang berdampak pada penghormatan, perlindungan dan penegakan HAM. 

Evaluasi 

Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan respon balik dari  peserta mengenai keseluruhan proses pelatihan yang telah dilakukan, baik yang menyangkut metode belajar, materi dan  bahan ajar, waktu belajar, narasumber dan fasilitator serta pengorganisasian pelatihan.

Materi SeHAMA 
Materi yang akan dipelajari dalam pelatihan dasar HAM ini mencakup 35 sesi materi. Masing- masing sesi 120 menit. Materi pelatihan ini dibagi dalam tiga kategori: pertama, wawasan Konsep dasar tentang masyarakat dan hak asasi manusia. Kedua,wawasan praktis berupa kasus-kasus yang terjadi. Ketiga, pendalaman lewat terjun ke kantong-kantong korban pelanggaran HAM. Selain itu, peserta juga ditantang untuk merumuskan strategi advokasi atau tindak lanjut dari hasil studi lapangan tersebut. 

Mereka yang bisa ikut menjadi peserta SeHAMA 2011 ini adalah:

1. Mahasiswa dari seluruh wilayah Indonesia, minimal duduk di semester 5 atau sudah menyelesaikan 100 SKS;
2. Berusia maksimal 25 tahun;
3. Melengkapi syarat-syarat administrasi yang ada (lihat lembar form SeHAMA 2011);
4. Membayar biaya Rp 400.000 (bila lolos seleksi);
5. Sehat jasmani dan rohani.

VI. Pelaksanaan 

Pelaksanaan Sekolah Hak Asasi Manusia untuk Mahasiswa (SeHAMA) 2011 KontraS akan dilaksanakan pada: 

Tanggal              : 26 Juni – 18 Juli 2011
Tempat                : Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)
                      Jl Borobudur No 14, Menteng
                      Jakarta Pusat, DKI Jakarta
                           10320

VII. Informasi Kegiatan 

Untuk mengetahui keterangan lebih lanjut dari kegiatan Sekolah HAM Mahasiswa (SeHAMA) 2011 KontraS, bisa menghubungi : 

  1. KontraS
Jl. Borobudur No. 14 Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta10320
Telp: 021 3926983 /
Fax. : 021 3926821
Website : www.kontras.org

  1. Kontak
Puri Kencana Putri : 0817 5455 229

VIII. Penutup 

Demikian TOR ini dibuat serta diharapkan memberikan gambaran umum terkait dengan kegiatan Sekolah Hak Asasi Manusia (SeHAMA) 2011 KontraS. 













































Formulir Pendaftaran
SEKOLAH HAM UNTUK MAHASISWA  (SeHAMA) III 2011
Jakarta, 26 Juni – 18 Juli 2011

Batas Akhir Pendaftaran 5 Juni 2011

Pendaftaran harus dilengkapi*:
  1. Lampiran hasil studi/transkip nilai minimal 100 SKS
  2. Pas foto berwarna 3x4 sebanyak 3 lembar
  3. Mahasiswa yang masih menempuh jenjang Strata Satu
  4. Berusia maksimal 25 tahun.
  5. Fotokopi KTM/KTP/SIMCurriculum Vitae (CV)
  6. Melampirkan surat rekomendasi dari kampus atau lembaga lain yang relevan dengan isu HAM
  7. Sanggup membayar biaya SeHAMA sebesar Rp. 400.000,-
(Catatan: Apabila sudah lolos seleksi dan dinyatakan oleh KontraS sebagai peserta SeHAMA 2011 KontraS dapat memberikan surat rekomendasi  bagi calon peserta SeHAMA 2011 untuk mendapatkan bantuan dana dari pihak lain. Calon peserta SeHAMA 2011  harus mengurus sendiri permohonan bantuan dana dari pihak lain tersebut.)
Fasilitas SeHAMA:

Formulir Pendaftaran ini agar dikirimkan melalui pos ke Panitia SeHAMA 2011 KontraS Jl. Borobudur No. 14 Menteng, Jakarta Pusat 10320, atau melalui email panitia_sehama@yahoo.com (dokumen atau foto harus di-scan) atau di Fax melalui 021-3926821.

Bagi peserta yang lolos seleksi penerimaan SeHAMA 2011, akan dikontak langsung oleh pihak panitia melalui telepon, email dan/atau akan diumumkan melalui website KontraS (http://www.kontras.org). Proses seleksi peserta SeHAMA 2011 sepenuhnya ditentukan oleh pihak panitia. 
Data Calon Peserta
  1. Nama lengkap                       :___________________________
  2. Tempat/ Tgl. lahir                 :___________________________
  3. No Telpon/HP*                      :___________________________
  4. E-mail                                     :___________________________
  5. Alamat                                  :___________________________
  6. Perguruan Tinggi                  :___________________________
  7. Fakultas/jurusan                  :___________________________


Data Personal
  1. Apakah anda mempunyai penyakit khusus? Ya     Tidak




Pengalaman
  1. Sebutkan nama organisasi mahasiswa atau sosial yang sedang/pernah diikuti:
           (waktu; organisasi; posisi)
  1. _______________________/__________/____________________________
  2. _______________________/__________/____________________________
c.   _______________________/__________/____________________________

  1. Sebutkan pendidikan di luar kampus (kursus atau pelatihan) yang pernah anda ikuti: (nama kursus/pelatihan; tahun belajar; bidang studi)
  1. _________________________/______________/_______________________
  2. ________________________/______________/________________________
  3. _______________________/______________/_________________________





Motivasi
  1.  Apa yang anda harapkan dengan mengikuti SeHAMA?







Partisipasi
  1. Dari mana anda mendengar tentang SeHAMA?






  1. Apakah anda bersedia berkontribusi sebesar Rp. 400.000,- (empat ratus ribu rupiah) bila anda berdasarkan hasil seleksi diterima sebagai peserta SeHAMA?
Ya         Tidak*

Pemahaman HAM






  1.  Tuliskan persoalan HAM yang menarik buat anda?



Kebutuhan dan Tawaran






















SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama Lengkap      :.................................................................................................
NIM               :.................................................................................................
Universitas             :.................................................................................................
Fakultas                    :..................................................................................................
Program Studi        :..................................................................................................

Apabila saya diterima sebagai peserta dalam Sekolah HAM untuk Mahasiswa III (SeHAMA)  2011 yang diadakan oleh KontraS, maka saya bersedia:

“Aturan Etika SeHAMA mewajibkan peserta, fasilitator, narasumber dan staf untuk menghormati martabat, nilai-nilai agama dan budaya, ras, gender, asal-usul, agama, orientasi seksual, usia atau ketidakmampuan satu sama lain.”

Bilamana saya gagal memenuhi salah satu dari persyaratan diatas maka akibatnya adalah saya tidak berhak untuk menerima sertifikat partisipasi dan/atau saya berkenan untuk segera meninggalkan SeHAMA.

Jakarta,....................2011

Hormat saya,


(___________________)
 

You Might Also Like

0 komentar

Beri Komentar!