Menjadi Sosok Pelajar Islam Yang Ideal Di Bumi Khatulistiwa (Sebuah ulasan tentang Darma Bakti dan Tafsir Asasi PII)

20.46



Menjadi Sosok Pelajar Islam Yang Ideal Di Bumi Khatulistiwa
(Sebuah ulasan tentang Darma Bakti dan Tafsir Asasi  PII)
Oleh :
Alfiandi[1]
PD PII Kota Lhokseumawe

Pendahuluan
Pelajar Islam Indonesia (PII) adalah sebuah organisasi pelajar yang terbesar di seantro tanah air ini, organisasi yang concern terhadap pengembangan pendidikan, Pengajaran dan budaya bagi segenap generasi muda yang haus akan jiwa cinta akan islam. Kiprah organisasi tersebut telah lama mewarnai perkembangan arus perubahan bangsa, bagaimana tidak, organisasi yang semula berasal dari pemikiran seorang anak muda yang bernama Anton Timur Djaelani yang risau akan perkembangan wajah pemuda negeri ini yang tidak bisa menampakan akan jiwa mudanya untuk berkontribusi bagi bangsa. Dengan niat ikhlas beriktikaf di masjid kauman Yogyakarta dan dalam masa iktikaf tersebut muncullah ide utuk membentuk suatu organisasi yang nantinya menjadi organisasi pelajar terbesar di Indonesia yang dapat mewadahi para-para pelajar islam di negeri ini.

Dan dari pemikirannya organisasi Pelajar Islam Indonesia terbentuk pada 4 Mei 1947 mengawali munculnya panji-panji islam dikemudian hari. Dan pemikiran yang paling memiliki nilai filosofi tinggi adalah yang tertuang dalam dharma bhakti dan tafsir asasi PII, dimana pada dharma bhakti dan tafsir PII ini menjelaskan secara luas dan mendalam makna akan tujuan hadirnya organisasi ini.

Dharma bhakti dan tafsir asasi PII ini bisa dikatakan pemikiran kritis yang dikemas dengan kalimat penuh argumentatif berdasarkan pemikiran logis sehingga setiap kader yang membacanya mengerti dan memahami untuk apa seorang kader tersebut ada di dalam PII. Hal ini bisa kita lihat pada awal kalimat buku ini, yang penulis sebut sebagai “buku mini sarat makna” memaparkan terlebih dahulu ikrar persatuan abadi yang di ucapkan oleh peserta konfrensi besar ke-3 PII memunculkan semangat heroik untuk senantiasa berjuang demi tegakknya islam di negeri ini, bagaimana tidak jika selama ini kita mengenal yang namanya sumpah pemuda menghasilkan sebuah kalimat yang dapat mempersatukan pemuda di seluruh Indonesia dengan ucapan bertanah air satu, berbahasa satu, dan berbangsa satu. Lalu permasalahannya mengapa kita sebagai pemuda dan pelajar islam tidak bisa mengimplemtasikan “ikrar persatuan abadi” ini sebagai pondasi kita dalam mengingatkan kita sebagai satu kesatuan Pelajar Islam Indonesia yang memiliki satu tujuan yang sama?.

Lalu bagaimana isi buku ini mengapa penulis katakan  buku ini memberikan pemahaman filosofi mendalam akan hakikat kita sebagai Pelajar Islam Indonesia?, hal ini menurut penulis, pertama sekali kita akan diberikan gambaran menganai garis sejarah PII. Garis sejarah ini menggambarkan awal lahirnya PII hingga PII tersebut kian menyebar ke seantro negeri. Banyak orang mengatakan Pembukaan yang baik dari sebuah buku (kalimat) akan memberikan kesan yang baik pula bagi pembacanya sehingga pembaca tertarik untuk membaca lebih dalam isi buku tersebut dan karakteristik tersebut ada dalam dharma bhakti dan tafsir asasi PII tersebut.
Dengan kalimat pembuka pegenalan lahir PII dan sambutan dari panglima besar Jendral Sudirman yang bagi sebagian orang yang bukan berasal dari kalangan PII dan bahkan kalangan kader PII sendiri mungkin tidak mengeathui bahwa adanya dukungan moral dari jendral tersebut dalam memberikan semangat bagi para kader PII pada masa itu ketika Indonesia belum lama merdeka tepatnya pada hari ulang tahun PII yang pertama[2] untuk melanjutkan perjuangan bangsa dan islam sehingga memberikan rasa bangga bagi setiap kader-kader PII di manapun berada.

Fase-fase
 Buku tersebut memberikan gambaran akan Perjalanan dan pertumbuhan Pelajar Islam Indonesia nampak dengan bertingkat-tingkat atau berfase-fase dalam mengemban amanah untuk kejayaan islam kedepan. Fase-fase tersebut di golongkan kedalam  5 (lima) fase, yaitu  fase kesadaran, fase kebangkitan, fase perluasan, fase pengokohan dan konsolidasi, dan yang terakhir fase mencipta, membangun dan memlihara.

Fase kesadaran adalah fase dimana para kader Pelajar Islam Indonesia memiliki kesadaran dalam menggunakan kebebasannya untuk berfikir sehingga ia mengemban amanah terhadap nusa dan bangsa untuk dapat menyelaraskan tujuan dari PII. Sehingga rumusan fase kesadaran ini tertuang dalam pasal 4 Anggaran Dasar PII yaitu : Kesempurnaan pendidikan, pengajaran dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rakyat Indonesia.
Munculnya fase kesadaran ini disebabkan permasalahan yang terjadi pada masa kolonial belanda masih melekat di bangsa ini padahal bangsa ini sedah merdeka. Adanya pendikotomian terhadap pelajar umum yang berdasarkan paham barat dan pelajar pesantren yang berdasarkan islam sehingga harus adanya wadah untuk merubah pola tersebut. Inilah inti fase kesadaran.

Fase kebangkitan adalah fase dimana Pelajar Islam Indonesia bangkit memenuhi panggilan Rasulullah s.a.w membuat seimbang antara ilmu dan praktek ibadat dengan ilmu dan praktek mu’amalah; keseimbangan antara kehalusan hati dengan kecerdasan otak. Sehingga kebangkitan ini memaknakan bangkitnya para pemuda islam untuk menjadi satu kesatuan utuh dalam memenuhi panggilan Rasullah tersebut sehingga organisasi-organsasi islam lainnya di pelosok negeri bangkit untuk bergerak maju dari arus pengekangan oleh kaum penjajah.
Dalam fase ini adanya ”Pergabungan Kursus Islam Sekolah Menengah (PERSIKEM) di Solo, GPII bagian Pelajar di beberapa daerah, Persatuan Pelajar  Islam  Indonesia (PERPINDO) di Aceh adanya kesan akan kebangkitan para kaum intelejensia muda Indonesia untuk bergerak maju sehingga pada fase ini dikenal adanya “perjanjian malioboro” dimana pelajar islam Indonesia melakukan perjanjian dengan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI), yang inti perjanjian tersebut Pelajar Islam Indonesia disambut gembira dan diakui keperluan dan haknya berdiri serta hidup di tengah-tengah  masyarakat.
Dan puncak bangkitnya Persatuan dan kebangkitan PII nampak dengan jelasnya pada Kongresnya yang ke-1 di Solo pada tanggal 14-16 Juli 1947.



Fase perluasan adalah fase dimana Pelajar Islam Indonesia meluaskan dirinya untuk mengepakkan sayap perjuangannya ke daerah-daerah lainnya seperti menghadirkan Komisariat-komisariat Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil, sehingga PII dapat eksis tidak hanya pada satu daerah saja melainkan akan menyebar ke daerah lainnya di pelosok negeri.
Hal ini di karenakan pada masa itu adalah masa sulit bagi PII dalam bergerak sebab 5 hari setelah kongres pertama peristiwa agresi militer belanda pun muncul sehingga pertumpahan darah banyak terjadi dan tidak memngkinkan PII hanya ada dalam satu wilayah saja, pelu perluasan ke daerah-daerah lainnya yang tidak di blokade oleh militer belanda pada masa itu.

Fase konsolidasi adalah fase dimana adanya tindakan-tindakan dari PII sendiri untuk menghadirkan Tindakan   keluar  seperti   ikut   sertanya   PII  dalam pembentukan Front Nasional Pemuda (FNP), tepat pada hari ulang tahun kemerdekaan ke-3 pada tanggal 17 Agustus 1948. FNP adalah sebagai imbangan Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) yang telah mengambil haluan kiri. FNP adalah suatu badan federasi yang terdiri dari GPII, HMI, PII, Pemuda Demokrat dan Pemuda Katholik.

Maka PII ikut aktif dalam penyelenggaraan Kongres Muslimin Indonesia (KMI) pada tanggal 20-25 Desember 1949. Sebagai puncak tingkat konsolidasi ini ialah berlangsungnya Kongres PII ke-3 di Bandung pada tanggal 27-31 Maret 1950. Tiga organisasi lokal yang masih ada, yaitu:  Pelajar  Islam  Indonesia Jakarta  Raya,  PERPINDO di  Aceh,  dan  Pelajar  Islam Makasar meleburkan diri ke dalam PII.

Fase  Mencipta,  Membangun  dan  Memelihara adalah  fase  yang  tersukar  dan terberat bagi PII. Tetapi justru dalam fase inilah diwujudkannya darmabakti Pelajar Islam Indonesia yang akan dapat dirasakan oleh seluruh ummat. Pada fase ini dikenal adanya Panca Daya Yang merupakan Lima kekuatan yang diperlukan untuk membangun kea rah eksisnya PII di tengah-tengah masyarakat, panca daya terdiri dari: 1. Daya Cipta yang mengintegrasikan bahwa para kader PII harus dapat mengembangkan bakatnya dimanapun ia berada contoh dari adanya daya cipta adalah munculnya majalah “tunas” yang merupakan wujud daya cipta dari seorang kader PII, 2. Daya Raga, memaknakan para kader PII senantiasa untuk dapat berkontribusi terhadap penegmbagana raga masyarakat hal ini dapat terlihat dengan adanya pelaksaaan olah raga baik di desa maupun di kota dan juga seringnya konfrensi-konfrensi yang dilakukan Pelajar Islam Indonesia mewujudkan akan adanya daya raga dalam tubuh kader PII, 3. Daya Benda artinya para kader dapat memberikan suatu hal yang bermanfaat bagi khalayak ramai hal ini terlihat dengan adanya pengorbanan para kader untuk membangun bangunan seperti mesjid Syuhada, 4. Daya Sosial artinya para kader senantiasa dapat hidup bersosial di masyarakat dan sebagai wujud sosial tersebut hadirnya Asrama PII sebagai tempat latihan untuk hidup bermasyarakat dengan orang-orang sekeliling asrama itu, kemudian dengan masyarakat yang lebih besar, 5. Daya Politika artinya para kader memiliki jiwa untuk senantiasa damai dalam kegaduhan carut marut kepentingan ideologi dan politik sehingga munculnya ikrar  Persatuan Abadi memberikan warna bahwa PII dapat meyerukan seruan suci untuk bersatu dan damai.

Kedudukan
Ulasan lainnya dari buku ini adalah  adanya pembahasan tentang kedudukan Pelajar Islam Indonesia dalam persatuan ummat dimana dihasilkanlah suatu rusumasan  pendidikan dan pengajaran  yang sesuai islam  dimana dasar pendidikan yang paling sesuai dengan misi dari Pelajar Islam Indonesia sendiri adalah berdasarkan tauhid. Hal ini tidak jauh berbeda dengan pemahaman akan   kebudayaan yang sesuai dengan islam, dimana kebudayaan yang ada di negeri ini harus berdasarkan nilai-nilai islam sebab islam memberikan dasar kebudayaan dan peradaban hal ini dapat kita pahami bahwa islam merupakan sumber kebudayaan sejati.

Dan permasalahan yang terakhir dalam buku tersebut adalah masalah soal-soal yang menyangkut dengan politik, sosial dan ekonomi. politik memaknakan bahwa Pelajar Islam Indonesia bukan merupakan organisasi politik yang berpolitik melainkan PII sendiri memandang politik untuk suatu hal yang di pelajari dan hanya sebatas mengikuti perkembangan politik itu semata intinya politik itu adalah sebatas objek studi.






Penutup
Menjadi seorang kader ideal tidak lepas dari nilai-nilai luhur yang telah di ajarkan oleh pendahulu kita, nilai-nila yang memberikan arti akan bersatu dalam ukhwah islamiah adalah suatu keindahan tersendiri dalam menjalankan sebuah organisasi. Dharma bhakti dan tafsir asasi PII ini adalah buah pemikiran pendahulu yang menjadi pelopor organisasi pelajar islam Indonesia. Nilai yang terkandung dalam dharma bhakti dan tafsir asasi PII ini adalah suatu pemahaman yang sarat makna dan memiliki pelajaran berharga bagi setiap kader. Semoga dengan adanya buku ini akan memberikan pencerahan bagi setiap kader PII dimanapun dan kapanpun ia berada.
Semoga PII akan jaya selalu !.



Aceh, 19 Januari 2013


                                                                                                                                       Penulis




[1] Penulis adalah Kabid.Kaderisasi PD PII Kota Lhokseumawe, tulisan ini dibuat sebagai syarat advance Training PW PII Jawa Barat 2013.
[2] Sekarang untuk penyebutan hari ulang tahun PII banyak kalangan menyebutnya sebagai hari bangkit (HARBA) untuk merefleksikan lahirnya PII yang memberikan kebangkitan jiwa pelajar islam di seluruh Indonesia.

You Might Also Like

0 komentar

Beri Komentar!