PUDARNYA EKSISTENSI MAHASISWA FAKULTAS HUKUM

01.55


PUDARNYA EKSISTENSI MAHASISWA FAKULTAS HUKUM
Oleh:
Alfiandi*


Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah :
          Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.
          Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan.
          Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.




B
egitulah petikan dari sumpah mahasiswa yang menggema di ingatan penulis ketika awal masa Orientasi Pengenalan Kampus (OSPEK) di Fakultas Hukum ini, salah satu fakultas hukum yang terkenal akan ke agresifannya di dunia akademik dan di kalangan aktivis mahasiswa lainnya yang ada di negeri ini.
Sumpah itu masih sangat melekat di benak dan fikiran penulis ketika sumpah itu sering diucapkan ketika aksi-aksi di jalan untuk meyuarakan akan kegelisahan negeri di khalayak ramai. Masih terasa dibenak penulis akan semangat untuk berbagi duka dan suka antar teman, baik yang seangkatan maupun tidak yang di balut dalam hangatnya kekompakan tersebut.
Hingga sumpah itu makin menancap lebih dalam ketika sumpah itu diucapkan bersama perwakilan mahasiswa di seluruh Indonesia ketika beberapa bulan yang lalu. Namun alangkah mirisnya hati ketika sekarang baru terlihat bahwa sumpah itu hanya menjadi murka akan keberanian seorang insan muda yang tidak mengerti akan arti sumpah.
Sebagai mahasiswa kita cendrung menganggap remeh hal-hal yang dianggap kecil seperti ungkapan sumpah tersebut. Secara harfiah kita sangat mudah untuk mengungkapkannya namun jika dikaji secara medalam sumpah itu memiliki makna yang sangat mendalam bagi seorang yang bernama mahasiswa.
Secara yuridis mahasiswa diartikan sebagai peserta didik pada jenjang pendidikan tinggi, namun dalam konteksnya kita jangan hanya melihat pengertian tersebut dari istilah definisi semata namun kita harus melihat lebih jauh  akan posisi kita sebagai seorang mahasiswa.
Dalam Pasal 13 ayat (1) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012  Tentang Pendidikan Tinggi di jelaskan bahwa “Mahasiswa sebagai anggota Sivitas Akademika diposisikan sebagai insan dewasa yang memiliki kesadaran sendiri dalam mengembangkan potensi diri di Perguruan Tinggi untuk menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan/atau profesional.”
Hal ini menafsirkan bahwa kita sebagai mahasiswa sebenarnya adalah generasi penerus yang memiliki segudang amanat untuk mengembangkan bangsa ini kearah yang lebih baik sesuai dengan minat dan bakat kita masing-masing.

Antara Nilai Akademis dan Organisasi
Dua kata ini adalah masalah utama bagi mahasiswa fakultas hukum sekarang, penulis melihat di lingkungan kampus ini mulai terbentuk pendikotomian karakter dari mahasiswa, bagaimana tidak pandangan ini terlihat jelas dari adanya mahasiswa yang cendrung mengejar nilai akademis hingga hanya fokus pada satu tujuan semata yaitu bagaimana mendapatkan nilai yang sangat tinggi hingga mengabaikan kepentingan lainnya yang sebenarnya memiliki nilai penting juga jika kita mau untuk menilainya.
Di sisi lain muncul pula golongan mahasiswa yang cendrung aktif terlibat dalam dunia organisasi yang begitu memakan jadwal sangat padat hingga membuat jadwal lainnya terbengkalai, termasuk jadwal kuliah yang merupakan tujuan utama dari mahasiswa. Hal ini berlanjut pada tahap hilangnya semangat dari mahasisiwa tersebut untuk kuliah yang berujung tidak selesainya mahasiswa tersebut di bangku kuliahnya. Meskipun tidak dapat dipungkiri bagi mahasiswa yang diberi gelar aktivis ini memiliki segudang prestasi dalam dunia organisasi yang terbukti dalam menjalankan roda organisasi secara massif dan rapi yang dapat memobilisasi gerakan dalam menggoyangkan pemerintahan.
Sangat disayangkan dari kedua wajah karakter mahasiswa tersebut, belumlah tercapainya semangat dari nilai agen of change dan agen of social control yang sebenarnya. Mereka seakan-akan melupakan janji-janji yang terucap dalam sumpah mahasiswa yang sakral itu, meski bukanlah sumpah yang seperti diucapkan para nasionalis yang dengan Sumpah Pemuda ataupun juga bukan layaknya sumpah yang dikenal pada kerajaan tempo dulu yaitu Sumpah Palapa. Namun hal ini disakralkan bagi mahasiswa yang menjiwainya sepenuh hati.


Mengintip Sejarah 1966 dan 1998
Bagi penulis ada dua masa yang tidak dapat dilupakan bagi seorang mahasiswa sekarang ini, khusunya bagi mahasiswa Fakultas Hukum. Dua masa tersebut jika kita amati dan telusuri lebih dalam merupakan masa emas bagi pergerakan mahasiswa (student movement). Hal ini ditandai dengan berhasilnya mahasiswa ketika era 1960 Untuk menggulingkan pemerintahan pada masa itu yang kita kenal dari orde lama kepada orde baru dan ketika era 1998 para mahassiwa begitu beraninya untuk mengacungkan telunjuk kirinya kepada para penguasa yang yang tamak akan kekuasaannya hingga berujung jatuhnya rezim orde baru yang terformulasi kepada orde reformasi. Hal ini terlepas apakah ada unsur politis dari kedua peristiwa tersebut namun penulis melihat semangat yang tebentuk ini adalah semangat yang lahir dari nilai-nilai sosial yang tertanam pada sumpah mahasiswa itu senidiri.
Namun dibalik itu semua, ada hal yang lebih penting lagi dibandingkan membicarakan kegemilangan masa kedua era mahasiswa tersebut yaitu semangat dari mahasiswa Fakultas Hukum yang selalu dan senantiasa bersuara menentang ketidak adilan di negeri ini melalui pemikiran kritisnya, melalui aksi-aksi kecilnya dan melalaui langkah konkrit yang dilakukannya mengantarkan mahasiswa Fakultas Hukum memiliki nilai tawar yang lebih dikalangan mahasiswa jurusan lainnya.
Hal ini bisa terlihat dari bagaimana pentingnya diri seorang mahasiswa yang berasal dari Fakultas Hukum dalam mengemukaakan pendapatnya untuk memberikan solusi-solusi dan argumentasi ketika berada di dalam sebuah forum baik ditataran lokal, regional hingga nasional. Sebegitukah besar nilai dari sosok mahasiswa Fakultas Hukum? Jawabanya, hanya tergantung bagaimana sosok tersebut mampu untuk membangkitkan ruh ke-apatisan-nya ke arah jiwa  yang memiliki ruh progresif kedepannya.
Kita jangan terlalu naif untuk mengatakan bahwa mahasiswa Fakultas Hukum Sangat hebat dengan membangga-banggakan hal diatas jika jiwa ke-apatis-an itu masih melekat di fikiran kita. Kita adalah intelektual masa kini yang seharusnya peduli akan nasib bangsa ini. Kita sebagai kaum intelegensia muda harus mampu menjawab bagaimana menyelesaikan masalah bangsa yang karut marut ini jangan hanya mengeluh dan menuntut agar bangsa ini memberikan yang lebih untuk kita tetapi fikirkanlah bagaimana kita harus berkontribusi bagi bangsa ini.
Jika memang kita belum sanggup untuk ke tingkat nasional, kita bisa berkontribusi bagi perkembangana lokal baik pada tataran provinsi hingga kapupaten/kota, bahkan jika kita peduli hal ini berlanjut pada keluarga dan pribadi kita masing-masing untuk menuju kearah yang lebih baik.
Penutup
Solusi akhir dari penulis dalam memecahkan permasalahan ini adalah sewajarnya setiap lapisan dari mahasiswa Fakultas Hukum bersatu padu dalam mengembalikan ruh semangat akan nilai-nilai progresif dan sikap kritis terhadap setiap problema yang dihadapi secara dewasa tanpa mengedepankan sifat pendikotomian antara mengejar nilai akademis semata atau mengharapkan kesuksesasan organisasi saja tetapi kedua hal ini harus dihadapi secara bersamaan agar tercapainya tujuan dari mahasiswa itu sendiri yaitu “sukses studi dan sukses organisasi”.
Akhirnya, semuanya kembali kepada diri kita masing-masing yang mengaku pada seberapa pentingkah kita menyandang gelar sebagai Mahasiswa Fakultas Hukum hingga gelar tersebut tergantikan menjadi Sarjana Hukum. Akankah gelar sarjana hukum tersebut berguna bagi bangsa ini ataukah malah mencoreng wajah hasil didikan dari sebuah Fakultas Hukum yang ternama di Universitas Malikussaleh tercinta ini.

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum (Hukum Tata Negara) Universitas Malikussaleh dan Siswa Basri Daham Journalism Institute Angkatan II. Email: alfiande_pii@yahoo.com



You Might Also Like

1 komentar

Beri Komentar!