Ekspresi Tanpa Intimidasi

19.07

Ekspresi Tanpa Intimidasi
Oleh : Alfiandi

Indonesia adalah negara yang menghormati dan menjunjung tinggi nila-nilai hak asasi setiap individu masyarakatnya. Berbicara hak asasi, banyak persektif yang dapat kita lihat mulai dari hak sipil dan politik (SIPOL) dan juga hak ekonomi, sosial dan budaya (EKOSOB).
Kemajemukan dari persektif tersebut tercerminkan pada cara-cara yang dapat dilakukan seseorang  untuk mengekspresikan apa yang dirasakan, difikirkan, serta yang dilihat. Semua kalangan dapat mengekspresikan apa yang ingin diungkapkanya mulai dari orang tua hingga anak muda. Pengungkapan ekspresi tersebut dilakukan baik secara langsung melalui tatap muka dan juga melalui tidak langsung seperti dalam penggunaan media.
Pada beberapa tahun terakhir ini penggunaan media khususnya media sosial menjadi trend bagi anak muda masa kini. Penggunaan media sosial sebagai alat komunikasi virtual dikalangan ini cenderung sangat mendominasi di Indonesia. Pada awalnya penggunaan media sosial ini hanya bersifat sebagai media untuk berkenalan satu sama lain, namun dengan berjalannya waktu media sosial juga dapat digunakan untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran kritis dari anak muda khususnya mahasiswa dalam setiap kegiatan yang dilakukannya.
Namun miris rasanya meskipun kebebasan berekspresi tersebut dilindungi oleh konstitusi negara ini, tetapi banyak juga kalangan yang mendikotomikan masyarakat-masyarakat yang sering mengkritisi setiap kebijakan pemerintah. Pendikotomian tersebut berdasarkan identitas mahasiswa tersebut baik dari golongan, ras, wilayah dan status sosial anak muda tersebut.
Hanya anak muda yang memiliki power untuk mengkritik secara pedas setiap kebijakan pemerintah yang dianggap melenceng dari ketentuan yang semestinya dilaksanakan oleh pemerintah. Tetapi bagi sebagian anak muda yang belum mampu untuk melakukannya adalah mahasiswa yang baru saja memulai memahami tentang dunia berbasis protocol internet.

Pengkerdilan Kebebasan Berekspresi
Kemerdekaaan atau kebebasan merupakan kekuasaan untuk menentukan diri sendiri untuk berbuat atau tidak berbuat (Driyarkara, tentang Manusia:60). Penentuan tersebut dilakukan sebagai salah satu sikap kebebasan bahwa manusia itu sebenarnya merdeka dari segala kekangan pihak manapun yang salah satunya adalah kebebasan berkspresi dalam mengungkapkan pendapatnya.
Pada tataran sejarah perpolitikan di Indonesia, kita mengetahui sebenarnya kebebasan publik dalam hal berekespresi dimanapun dia berada sangat dikekang dan masih cendrung terlalu tertutup. Hal ini dikarenakan oleh ke-otoriteran rezim penguasa yang masih memiliki pandangan yang kolot bahwa rakyat itu sebenarnya harus selalu menerima semua ketentuan dari pemerintah tanpa harus mengkritisinya. Hal ini terlihat ketika Indonesia masih dikendalikan oleh rezim penguasa orde baru.
Banyak cerita kelam yang akan kita temui jika kita mau untuk mengintip perjalanan kebebasan hak-hak berkspresi bagi anak muda yang ada di Indonesia. Tidak ada keterbukaan yang diberikan oleh pemerintah terhadap masyarakat Indonesia khususnya di kalangan kaum muda untuk mengekspresikan segala ketidakpuasan akan pemimpin negerinya. Banyak dari para anak muda khususnya mahasiswa yang ada pada masa orde baru ini mau tidak mau harus terdiam pada ketundukan dan kepatuhan pada penguasa.
Bukan hanya secara lisan saja kebebasan berekspresi tersebut dibatasi tetapi hingga pada pengekangan pikiran dalam bentuk tulisan pun dijajah.  Sehingga ruang keterbukaan publik lama kelamaan tertutup dengan kunci kediktatoran penguasa.

Mengaca Insrtumen HAM Internasional
Dalam instrumen HAM internasional, hak seseorang untuk mengekspresikan dalam bentuk mengemukakan pendapatnya diberikan kebebasan yang luas. Hal ini didasari bahwa manusia itu tidak bisa dikekang segala rasa yang ada difikirannya karena manusia butuh wadah untuk menyalurkan pendapatnya tersebut.
Hal ini dapat kita lihat pada International Covenant On Civil And Political Right yang telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia, Dijelaskan pada Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang RI No.12 tahun 2005 tentang Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan Politik “Setiap orang berhak atas kebebasan untuk menyatakan pendapat : hak ini termasuk kebebasan untuk mencari, menerima dan memberikan informasi dan ide apapun, tanpa memperhatikan mediannya, baik secara lisan, tertulis atau dalam bentuk cetakan, dalam bentuk seni, atau melalui media lainnya sesuai dengan pilihannya”.
Dari pasal tersebut kita dapat menarik seuatu kesimpulan bahwa bukan hanya Indonesia saja harus memberikan keterbukaan bagi setiap orang untuk berekspresi dalam menyatakan pendapatnya melalui media, dan media tersebut yang sering digunakan oleh anak muda sekarang ini adalah media sosial.

Refleksi Reformasi
Pasca runtuhnya rezim orde baru, secara otomatis udara segar reformasi berhembus, kebebasan tersebut mulai memberikan suasana baru khusunya bagi kalangan anak muda yang kritis terhadap apa yang dirasakan di Indonesia ini.
Setelah 15 (lima belas) tahun pasca reformasi, kita memang sudah mendapatkan kebebasan dalam hal berekspresi namun hal ini belum dapat dikatakan sebagai kepuasan yang sempurna sebab intimidasi dari pihak luar masih terjadi, apa lagi bagi kalangan anak muda yang ada di daerah sehingga kebebasan tersebut pun menjadi suatu kebebasan yang semu.
Mereka orang-orang yang vocal menyuarakan aspirasinya di media sosial sekarang harus berhati-hati karena meskipun memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapat di muka umum baik secara langsung maupun menggunakan media seperti media sosial tetap saja akan ada pihak luar yang mengintimidasinya.
Namun hal ini bukanlah masalah yang serius jika negeri ini memiliki komitmen akan melindungi hak-hak warga negaranya secara aktif, salah satu hak perlu diperhatikan dengan serius adalah hak untuk berekspresi di kalangan anak muda. Karena EKSPRESI ANAK MUDA adalah HAK ASASI.

 * Penulis adalah siswa Sekolah Hak Asasi Manusia Untuk Mahasiswa (SeHAMA Angkatan V) KontraS Jakarta, Saat ini aktif di BEM Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh.

Tulisan ini pernah dimuat di : Atjehtoday, Tanggal 6 September 2013 


You Might Also Like

0 komentar

Beri Komentar!