Melacurkan Idealisme

06.37


Melacurkan Idealisme
Oleh : Alfiandi

TIDAK dapat kita pungkiri, saat ini idealisme seorang mahasiswa sedang diuji. Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 ini seakan-akan menjadi suatu masa yang sangat sarat akan kepentingan politis elite penguasa. Dan mahasiswa menjadi lumbung suara yang menggiurkan bagi sang calon legislator (caleg) yang akan maju untuk didekati.
Mahasiswa sebagai sebuah pilar penegak demokrasi yang juga bagian dari pemilih memiliki nalar intelektual tinggi. Tetapi justru golongan ini yang begitu mudah dipengaruhi. Seharusnya mahasiswa dapat memberikan pemahaman demokrasi kepada masyarakat melalui sebuah  proses yang dinamakan Pemilu.

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan partisipasi pemilih dan kualitas akan pemilih sendiri ketika menentukan pilihannya. Sebab jika kita jika melihat dari data Komisi Pemilihan Umum (KPU), tingkat partisipasi pemilih kian menurun sejak dimulainya pemilihan umum pascareformasi. KPU juga memprediksi, partisipasi masyarakat pada pemilu 2014 rendah. Tetapi sayang, proses memberikan pemahaman demokrasi ini disalahgunakan oleh mahasiswa di Indonesia.

Penulis sebagai bagian dari mahasiswa sendiri merasa miris melihat fenomena ini. Banyak dari mahasiswa begitu mudahnya mau menjadi bagian dari penyuksesan kampanye sang calon. Memang pilihan untuk terlibat dalam partai atau menjadi gerakan partisan dari sebuah partai adalah hak prerogatif setiap orang, termasuk mahasiswa. Namun akan muncul banyak perdebatan ketika kita menilai hal ini, apakah wajar sebagai pribadi kaum intelegensia mau melacurkan nalar intelektualnya di bawah kemunafikan sang calon?


Melacurkan Idealisme
Penulis melihat ada tiga tipe kelompok mahasiswa yang dapat kita klasifikasikan ketika dihadapkan pada pemilu. Pertama, ada kelompok mahasiswa yang tahu dirinya digunakan sebagai alat dari sang caleg. Artinya kelompok mahasiswa tipe ini sebenarnya mengetahui bahwa para calon mau memengaruhi mahasiswa untuk dapat memilihnya. Kesempatan tersebut diambil mahasiswa dengan mengharapkan materi atau berharap pamor mereka naik di hadapan sang calon.

Kedua, ada golongan mahasiswa yang memang tidak tahu bahwa kepentingan dirinya sebagai mahasiswa sedang ditunggangi. Kelompok ini biasanya diisi mahasiswa-mahasiswa baru. Pola pikir yang belum begitu memahami kepentingan penguasa dianggap hal yang wajar dan sepele padahalsecara tidak langsung mereka sudah digiring untuk mempercayai hal tersebut.

Ketiga, adalah kelompok mahasiswa yang tahu namun pura-pura tidak tahu bahwa dirinya sedang ditunggangi. Kelompok mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa yang tidak memiliki kekuatan untuk mengungkapkan kebohongan di balik semua tingkah laku caleg, Mereka tidak berani untuk mengungkapkan kebenaran. Hal ini didasari lemahnya pengaruh mahasiswa tersebut atau bahkan muncul rasa segan sebab calon tersebut juga dari kalangan keluarga sang mahasiswa itu sendiri.

Dalam hal ini penulis pernah mengikuti sebuah diskusi publik yang dilakukan oleh beberapa kelompok mahasiswa yang mengundang para politisi ke sebuah kampus, dengan dalih membuka ruang dialog publik antara mahasiswa dan para legislatif. Alih-alih membuka dialog publik, justru para legislatif yang juga merupakan caleg untuk maju kembali ke pemilu kali ini dapat dengan leluasa mengampanyekan dirinya di hadapan mahasiswa. Bahkan parahnya lagi, mobil sang calon berbalut wajah dan partainya juga bisa memasuki wilayah kampus. Padahal hal ini sangat bertentangan dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah serta Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 15 Tahun 2013 Tentang Perubahan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 01 Tahun  2013 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kampanye Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Daerah.

Dari kasus ini mahasiswa yang dari kelompok pertama sebenarnya sudah mengetahui bahwa akan ada kampanye terselubung di dalam dialog ini. Namun dia tetap memberikan kesempatan kepada si caleg. Apakah mahasiswa kelompok ini mendapatkan imbalan dari sang calon? Hanya kelompok tersebut yang dapat menjawabnya. Satu hal yang jelas, tindakan seperti itu dapat kita katakan sebagai melacurkan idealisme mahasiswa demi materi.

Kelompok kedua hanya bisa mendengarkan bahwa hal ini baik-baik saja. Toh yang didiskusikan seputar daerahnya dan integritas sang calon. Sedangkan kelompok ketiga justru hanya diam mendengarkan petuah sang calon tanpa mengkritik.

Seharusnya sebagai mahasiswa kita dapat mengambil sikap atas fenomena ini dan memposisikan diri kita sebagai agent of change serta agent of social control  untuk tidak dengan mudah tergiur akan tawaran meteri, lebih-lebih mengadakan kampanye terselubung dan terlibat dalam politik praktis di kampus.

Posisi Mahasiswa  

Sebagai mahasiswa seharusnya kita dapat memosisikan diri dalam menghadapi situasi seperti ini. Pola pikir kritis dengan paradigma yang baik harus dikedepankan agar tidak mengarah kepada pragmatis. Sebagai benteng pengawal demokrasi, kita harus dapat bersikap netral, bukan condong kepada partai-partai atau caleg yang mendekati kita. Sungguh sangat disayangkan bila kita mau melacurkan idealisme hanya dengan mengharapkan materi yang menggiurkan.

Ini adalah penipuan yang sangat amoral bagi identitas mahasiswa. Dan kondisi ini akan kian parah jika banyak dari pemimpin mahasiswa yang mau menggadaikan organisasinya untuk mengelabui mahasiswa lain yang tidak tahu apa-apa demi kepentingan materi semata.

Beban moral sebagai mahasiswa harus dapat dipikul dengan rasa idealisme murni yang tujuannya adalah memperjuangkan agar rakyat ini sejahtera. Tindakan-tindakan masuk ke dalam dunia politik praktis tidak perlu dilakukan saat ini, sebab hal itu jika dilakukan sekarang akan memunculkan kekecewaan dari harapan masyarakat sebagai generasi yang senantiasa membela kepentingan rakyat.

Sangat disayangkan jika mahasiswa masuk ke dalam kelompok pertama ketika melihat politik praktis sudah masuk ke kampus. Alangkah bobroknya negeri ini jika sejak saat ini mahasiswa dengan mudah tergoyahkan karena uang, bagaimana ketika dia menjadi pemimpin negeri kelak?



* Penulis adalah Relawan Demokrasi di Komisi Independen Pemilihan (KIP) Lhokseumawe, saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, Siswa Basri Daham Journalism Institute (BJI) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lhokseumawe dan  Alumni Sekolah Hak Asasi Manusia Untuk Mahasiswa (SeHAMA V), KontraS Jakarta. Saat ini Aktif di beberapa organisasi intra dan ekstra kampus.


You Might Also Like

0 komentar

Beri Komentar!