Memoar SeHAMA V

09.58




Hai apa kabar semuanya!...
Tak terasa sudah satu tahun sejak saya pulang dari SeHAMA KontraS Jakarta pada 2013 lalu, semangat menulis saya kian muncul hingga saat ini. Nah, kali ini saya ingin menceritakan tentang SeHAMA. Kebetulan saat ini SeHAMA angkatan VI sedang dibuka dan katanya sebentar lagi proses belajar akan dimulai.
Sebenarnya apa sih SeHAMA itu, saya yakin ada diantara para pembaca blog saya ini yang sedang mencari-cari informasi tentang SeHAMA. Ya, hal ini wajar dilakukan, saya dulunya juga selalu aktif untuk mencari dan membaca berbagai artikel yang berkaitan dengan SeHAMA.
SeHAMA (Sekolah HAM Untuk Mahasiswa) adalah sebuah training HAM yang dilaksanakan oleh Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Jakarta yang dikhususkan bagi mahasiswa di seluruh Indonesia untuk dapat memahami dan mengaplikasikan pemahaman Hak Asasi Manusia (HAM) mereka secara nyata.
Jika kamu adalah pribadi seorang mahasiswa yang menyukai dengan isu-isu sosial dan kemasyarakatan dan berorientasi pada hak asasi manusia, maka saya rekomendasikan kamu untuk mau mengikuti kegiatan SeHAMA ini.
Di forum ini akan banyak sekali pengalaman dan ilmu yang akan kamu peroleh, bahkan jauh dari itu semua hal yang tidak akan kamu dapatkan di forum lainnya adalah sebuah jejaring pertemanan lintas daerah yang sangat akrab. Saya merasakan persaudaraan di forum ini sangat kuat terjalin mulai dari masa-masa awal kita berkenalan hingga masa-masa perpisahan pun tiba.
21 hari bukanlah waktu yang lama untuk mengenal satu sama lain. 21 hari bukanlah hari yang bisa membuatmu bosan. 21 hari juga bukanlah hari yang akan membuatmu tidak akan mengerti apa-apa. Tetapi dengan 21 hari itu, kamu akan merasakan hal yang sangat berbeda dan akan memberikan makna.
Apa saja perbedaan yang saya dapatkan? Tentu saja pola pikir yang baru akan terbentuk setelah kepulanganmu dari forum ini. Kamu akan melihat segala sesuatu hal bukan hanya dari satu sisi saja. Jika kamu adalah seorang yang fokus untuk kuliah semata, maka dibalik itu kamu akan melihat bagaimana gerakan “turun ke jalan” lebih bermakna dari pada hanya “duduk di bangku”. Jika kamu hanya berorientasi pada aksi demonstrasi sebagai solusi, maka kamu harus memiliki konsepsi akan gerakan dari teori sosial pula.
Nah, di forum ini wawasan kita akan terbuka selebar-lebarnya untuk melihat hal itu semua. Naluri sebagai mahasiswa yang identik dengan membela masyarakat lemah, masyarakat minoritas, dan masyarakat yang tertindas akan muncul.
Sebab selain kita akan diajarkan teori tentang HAM, aplikasi nyata dari materi yang telah diberikan benar-benar kita lakukan dalam waktu 21 hari ini. Intinya pola pikir out of the box akan muncul jika kita serius menjalani kegiatan ini.

Seleksi
Untuk bisa memasuki sebuah instansi pendidikan tentu ada proses yang harus kita lalui, mulai dari lulus seleksi berkas, lulus tes, dan wawancara. Namun di SeHAMA ini seleksi yang dilakukan hanya melalui seleksi aplikasi berkas yang kita kirim. Dalam form berkas tersebut akan berisi Riwayat Hidup, Pengalaman Oganisasi, Pendidikan, Training, Kepribadian, Motivasi mengikuti SeHAMA, Permasalahan HAM yang terjadi di daerah dan serta rekomendasi dari lembaga yang akan kita wakili.
Semua berkas itupun harus kita isi dengan sungguh-sungguh, hal ini menjadi bukti sejauh mana komitmen kita dan bagaimana kepribadian dalam mengikuti kegiatan SeHAMA nantinya. Apakah kita hanya ingin untuk mengikuti kegiatan ini untuk mengisi waktu luang semata atau justru kita ingin berkontribusi bagi daerah setelah kepulanga kita nantinya.
Saya mengirimkan berkas-berkas tepat beberapa hari menjelang penutupan pendaftaran. Sebenarnya minat saya untuk mengikuti kegiatan SeHAMA ini sempat tergoyahkan disebabkan beberapa hal. Pertama, masa pendaftaran yang sudah sangat mepet membuat saya ragu untuk mendaftar, disusu teman saya yang sudah sangat bersemangat dan katanya sudah ada jaminan lewat. Kedua, biaya untuk ke Jakarta yang tidak murah, mengingat masa pembelian tiket ketika beberapa hari mau berangkat dalam masa-masa pasca lebaran. Tentunya tiket pesawat sangat mahal, saking mahalnya saya sempat ingin naik bus ke Jakarta (ini ide gila saya, jika memang tiket pesawat tidak kunjung turun harganya).
Saya akhirnya memutuskan malam itu tetap untuk berangkat, apapun yang akan terjadi saya siap untuk menanggung resikonya. Sore hari saya mendapatkan tiket murah langsung saya pesan dengan modal pinjaman dari teman dan saya berjanji akan membayarnya nanti.
Ketiga, ketika dalam perjalanan dari Lhokseumawe ke Bandara Sulthan Iskandar Muda di Banda Aceh saya kehilangan HP nah inilah alasan kuat saya untuk tidak mau melanjutkan lagi, mungkin saja ini pertanda buruk ke depannya.
Dari ketiga peristiwa itu akhirnya saya mendapatkan sebuah kalimat yang dapat terus memotivasi saya yaitu “where there is a will, there is a way”, dimana ada kemauan disitu ada jalan. Ya, saya benar-benar ingin untuk mengikuti forum ini.
Perjalanan dari Lhokseumawe ke Banda Aceh menempuh waktu selama 6 jam, sedangkan dari Banda Aceh ke Jakarta hanya 2 jam namun itupun harus transit di Medan selama 1 jam. Setelah bersusah payah akhirnya saya sampai di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta lalu naik Bus Damri menuju  stasiun gambir dan sampai disana tepat pada pukul 23.00 wib.
Dari Stasiun Gambir Saya memutuskan untuk naik Bajai. Mengingat ini pengalaman baru, juga untuk menghemat anggaran dibandingkan naik ojek ataupun naik taksi. Dengan rute yang telah diberikan oleh panitia SeHAMA, akhirnya saya diantarkan oleh Tukang Bajai ke kantor KontraS. 
Namun jalan yang diambil pun salah dan akhirnya saya berhenti di depan kantor YLBHI. Tidak beberapa lama kemudian, panitia pun datang untuk menjemput. Saya diantar ke kantor KontraS terlebih dahulu untuk mengambil goody bag yang berisi buku literatur tentang HAM, baju, perlengkepan tulis, dan souvenir cantik. Tepat pukul 24.00 WIB akhirnya saya memasuki wisma tempat kami menginap. Bagi saya penginapannya bisa dikatakan mewah jika memakai standar anak kos.
Sudah banyak peserta lainnya yang sudah datang dari berbagai kampus dan daerah, ada yang masih duduk berkumpul namun ada pula yang tidur. Saat itu saya pun mulai berkenalan dengan teman-teman baru, ada Fadly dengan gaya sok coolnya. Fahmi cuk dengan gaya sok kerennya dan nanang dengan gaya seriusnya. Cahyono sudah tidur pulas waktu itu, namun karena sudah pada ribut dia pun terbangun.


Perbincangan hangat layaknya teman dekat pun sudah kami lakukan beberapa puluh menit. Namun dikarenakan malam yang kian larut, mata yang mulai mengantuk, akhirnya kami pun tidur dengan pulas di malam itu. 

Perjalanan Dimulai
Pada pagi hari nan cerah, semua peserta sudah siap-siap untuk mandi dan sarapan. Namun ada juga yang masih teler di kasur. Ada yang mulai merebus air untuk minum teh dan kopi, atau ada pula yang sekedar nyengir-nyengir tak jelas di jendela pagi itu.
Pagi yang memberi kesan, semuanya sudah mulai membaur. Termasuk saya, padahal baru semalam kami berjumpa dan di paginya cengkrama ria sudah menghiasi wajah kami.
Hari ini kegiatannya perkenalan dengan staff KontraS serta mengilingi kantor KontraS. Disini saya mulai memahami bagaimana manajerial KontraS yang tertata rapi. Wajar jika KontraS memiliki kepercayaan publik yang begitu luas dalam mengadvokasi berbagai kasus pelanggaran HAM, mulai dari yang skala kecil hingga skala besar.
Lalu kami diberikan pemahaman tentang nilai-nilai KontraS, Melakukan perjanjian yang boleh dan tidak boleh di lakukan, membuat struktur kelas, dan membuat Account media sosial. Kegiatan hari ini berakhir dengan acara nonton film bareng di Taman Ismail Marzuki (TIM) tentang Hak-hak LGBT “Part of the heart”.
Hari kedua kami diberikan materi tentang pengenalan tentang prinsip-prinsip dasar HAM, disusul materi pelanggaran HAM dan hubungannya antara individu dan negara. Setelah dua materi itu dilanjutkan dengan materi isu keburukan lingkungan dan HAM. Hari ini pun diakhiri dengan Nonton film mama Aleta, sebuah film yang menceritakan tentang perjuangan masyarakat hukum adat di timur Indonesia.
Pada hari ketiga pembukaan SeHAMA baru dilaksanakan. Saya masih sedikit terheran mengapa pembukaan justru dilaksanakan ketika pendidikan sudah dimulai, mungkin hal ini memang sistem yang seperti ini atau justru karena waktu antara undangan dari panitia kepada pemateri dan media yang tidak bisa digeser lagi. Tetapi saya menyukai hari ini.
Sambutan-demi sambutan kami dengar seksama, mulai dari Kordinator KontraS, Bang Haris Azhar yang menjelaskabn tentang sedikit gambaran program SeHAMA, dilanjutkan sambutan oleh pewakilan Kedutaan Swiss, dan Kanada serta disusul dengan kuliah umum dan diskusi bersama Nurul Izzah   salah satu anggota Parlemen Lembah Pantai Malaisya.
Saat kuliah umum dan diskusi ini, kesempatan yang paling berharga bagi saya adalah diberi kesempatan untuk menanyakan tentang bagaimana pandangan beliau dan gambaran terkait HAM yang ada di Indonesia dan di Malaisya.
Mengapa moment itu berharga? Sebab di sesi tanya jawab hanya diberikan hanya untuk dua orang peserta. Pertanyaan sudah kami rumuskan sebelumnya, hal ini dilakukan untuk dapat menampung pertanyaan-pertanayan dari peserta yang tidak diberikan hak bertanya. Ya, hanya dua orang. Saya dari Aceh, dan kakak Beyum dari Papua.
Acara seremonial ini pun berakhir dengan adanya music performance dari White Shoes & The Couples Company. 

Hari keempat, kegiatan awal yang kami lakukan pertama sekali mereview materi yang telah diberikan sebelumnya, disusul adanya materi tentang Hak Sipol dan Hak Ekosob. Setelah shalat Jum’at dilanjutkan dengan materi tentang Pengenalan konsep keadilan transisi dan pentingnya memelihara memori kita untuk melawan lupa dan impunitas. Disini saya memahami suatu hakikat makna bahwa “memafkan bukan berarti melupakan”.
Malamnya kami melakukan praktek kontrol diri bersama Yayasan Pulih, dengan game yang seru membuat seluruh peserta akan tetap mengingat momen tersebut.
Hari hari berikutnya saya pun mulai merasakan hal yang sangat berarti dan memberikan makna mendalam. Mulai dari kunjungan ke Komnas HAM, kunjugan ke Komnas PA, Kedutaan Swiss, melakukan Aksi Kamisan,  mengelilingi situs korban pelanggaran HAM di Jakarta hingga melakakuan Field Visit ke komunitas korban pelanggaran HAM. Saat itu saya bersama Elin, Uci, Fadhli, Fahmi Cuk mengunjugi korban penggusuran di Kali Adem. (Ini pengamalan The gang Of Ciibu for Berrax.

Tak terasa 20 hari telah kita lewati bersama, suka duka, tawa ceria, senyum indah menghiasi rona wajah semua peserta. Mulai dari nongkrong di atap wisma, main gitar seperti orang gila, jalan kaki keliling kota,  curhat-curhatan di pagi buta, hingga main game kejujuran pun dilakukan. Semua kegiatan itu menjadi hal yang tidak akan terlupakan.

Dan hari ini adalah hari untuk melakukan evaluasi selama berada di KontraS dan akhirnya berlanjut pada cultural night bertepatan dengan pameran foto Pembela HAM Internasional. Pesan dan kesan dicurahkan pada sesi ini hingga berakhir pada pengumuman peserta terbaik, tersolid, teraktif, dan tentu saja terlucu. Ada hal aneh di moment ini, bagaimana mungkin saya dinobatkan sebagai peserta terlucu (aneh! ). 

Akhirnya semua kenangan itu pun harus berpisah kawan, kita akan kembali ke daerah kita masing-masing dengan bekal ilmu dan pengalaman baru, yang menjadi modal awal kita untuk selalu menyuarakan tentang Hak Asasi Manusia dimanapun dan kapanpun kita berada. Dan kepada anda! Selamat bergabung di SeHAMA VI semoga pengalaman anda lebih hebat dan bermakna dari saya. Ukirlah kisahmu untuk menjadi bagian dari orang-orang yang mau untuk peduli akan Hak Asasi setiap orang, sebab dengan itu kita dapat menjadi pilar penegak konstitusi kita!.[]

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara (SDAU) IV dan Alumni SeHAMA V KontraS, saat ini aktif di Kelompok Studi Mahasiswa Creative Minority.

Thanks To:
-          Orang Tuaku
-          KontraS
-          Forum Komunikasi Mahasiswa Aceh (FKMA)
-          Universitas Malikussaleh
-          Beyum (Untuk Sharing tentang konflik di Papua)                  
-     Fadhli  (Untuk Diskusi selama di Kali Adem)                                                 
-          Ayas     (Untuk Jalan2 keliling Jakarta)                      
-          Ahmad Fahmi Yahya (Untuk Motivasinya)                                        
-          Kianda (Untuk Pinjam Motormu ke Grapari)
-          Charlie            (Untuk gagasan-gagasanmu)                         
-          Ega Melindo (Untuk semangatmu)                                       
-          Kenny  (Untuk ajak kita jalan-jalan malam itu)
-          Ariss perdana (Untuk diskusi tentang gerakan)
-          Inge      (Untuk pengalaman hebatmu)
-          Nanang (Untuk semangat memimpinmu)
-          Kris herwandi (Untuk diskusi tentang filsafat di malam itu)
-          Herharunk   (Untuk semangat yang inspiratif)
-     Fahmi Cuk   (Untuk candaanmu yang sangat menggugah baik di Kali Adem dan di wisma)
-          Antie Molly (untuk ide-ide cemerlangmu)
-          Henry adrian (Untuk diskusi serius yang kita lakukan di belakang wisma)
-   Elin herlina (Untuk perdebatan hangat tentang konsep Agama yang membuka wawasan baru)
-          Royyan (Untuk konsep perlawanan yang kamu berikan)
-          Ayu mellisa (untuk semangatnya)
-          Uci  (Untuk diskusi sekaligus curhatnya)
-          Topan freeman (untuk syal nya)
-          Cahyono (untuk nyanyian gitarmu di malam minggu)
-          Natalie (untuk semangatmu yang menggebu-gebu)
-          Abon   (Untuk diskusi tentang Hukum)
-     Serta Semua sahabat-sahabat saya. Kalian adalah inspirasi sejak dulu, kini dan akan datang. 

   Note: ini link video catatan SeHAMA V http://www.youtube.com/watch?v=OXQD33afUQ8

You Might Also Like

1 komentar

  1. sama-samaa Alfiandi terimaksih juga tuk kecerian dan pemikiran-pemikiran mu makin Visioner kawan :)

    BalasHapus

Beri Komentar!