Menggagas Wisata Islami di Tanah Samudera Pasai

01.01



Oleh: Alfiandi [1] [Tulisan ini memenangkan Juara III Lomba Menulis Artikel tingkat mahasiswa se-Aceh Utara oleh DPD KNPI Aceh Utara tahun 2014 dan Pernah di Publikasikan di Buletin Jurnal Pasee Edisi Agustus 2014, (Nomor 23/VIII/2014)]

Ada suatu realitas dan gambaran yang secara konseptual muncul dari istilah Samudra Pasai. Penggambaran tersebut tak terlepas dari dua hal. Pertama, Ada yang mendeskripsikan Samudra Pasai sebagai pusat peradaban Islam pertama di Nusantara maupun Asia Tenggara. Kedua, ada yang mendeskripsikan keindahan Samudra Pasai sebagai suatu keistimewaan di Aceh pada masa silam.
Penggambaran tersebut merupakan sebagai simbolisasi setiap orang bahwa sebenarnya ada keistimewaan tersendiri yang terpatri bagi siapa saja yang ingin mengenal kemegahan Samudra Pasai pada tempo dulu.
Meskipun simbolisasi tersebut hanya dapat dilakukan dengan membaca berbagai literatur atau berkunjung ke Makam Malikussaleh sebagai bukti bahwa pernah ada kejayaan di Samudra Pasai yang saat ini terletak di wilayah Geudong, Aceh Utara.
Sebagai Sebuah peradaban yang memiliki Kerajaan nan jaya pada masanya, Samudra Pasai dipimpin oleh seorang sultan yang bernama Meurah Silue yang kemudian diberi gelar sebagai Sultan Malik As-Saleh (Malikussaleh) pada abad ke 12.
Kerajaan Samudra Pasai bukan hanya dikenal di nusantara saja namun juga dikenal dunia. Hal ini sebagaimana kita ketahui banyak para pedagang dan juga penziarah Arab, Gujarat, India, China, Siam, dan Persia datang ke Samudra Pasai seperti Ibnu Batutah, Marcopolo, Serta Laksama Ceng Ho.
Kejayaan Samudra Pasai mencapai puncaknya ketika digantikan oleh pewaris tahtanya yaitu sultan Malikul Dhahir yang menjadikan Samudra Pasai ini sebagai pusat perdagangan Internasional. Tercatat dari berbagai literatur bahwa pelabuhannya sangat dipadati oleh lalu lintas dari kapal-kapal pedagang.
Namun kerajaan ini pun mulai runtuh kegemilangannya ketika munculnya pusat politik dan perdagangan baru di malaka yaitu kekuatan baru yang dibawah kemajuan kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke-16.
Kegemilangan ini perlahan mulai runtuh layaknya deburan ombak yang mengikis bibir pantai dan kikisan tersebut masih berlanjut hingga saat ini. Kenangan bahwa di Aceh Utara ini terdapat sebuah kerajaan yang besar nan megah dengan pusat peradabannya, kini hanya bisa menjadi buaian mimpi saja sebab kenangan tersebut tidak begitu diperhatikan sekarang ini.

Potensi Aceh
Sebagai salah satu kabupaten yang ada di Aceh, sebenarnya Aceh Utara memiliki potensi yang sangat besar dari segi sumber daya alamnya. Baik sumber daya alam hayati maupun non hayati ada di kabupaten ini.
Dapat kita katakan potensi yang ada di Aceh Utara bisa mensejahterakan masyarakat Aceh Utara sendiri. Potensi yang merupakan karunia yang telah diberikan ini seyogyanya dapat kita syukuri bersama. Namun kenyaataannya masih banyak masyarakat Aceh Utara yang hingga saat ini belum dapat dikatakan sejahtera.
Baik sektor pertanian, peternakan dan juga perikanan memberikan aset daerah yang sangat banyak bagi Aceh Utara sendiri. Selain itu kekayaan minyak dan gas (Migas) di Aceh Utara mampu bersaing dengan industri migas di daerah lain, meskipun kini tinggal sepersekian lagi sisanya dan hanya menyisakan rongsokan besi-besi tua pada perusahan Migas di Aceh Utara.
Bila kita melihat sekilas ke belakang tentang Aceh Utara, daerah ini terkenal dengan istilah petrodollar dan menjadi salah satu kabupaten dengan penghasilan alam terbayak di Indonesia.
Pemerintah tidak hanya mensejahterakan investor yang menanamkan modalnya dengan berbagai macam kemudahan akan tetapi juga melihat dari segi masyarakat yang mengalami pemiskinan secara struktural yang disebabkan oleh pemerintah itu sendiri. Oleh karena demikian, potensi sumber daya alam harus diopitimalkan guna menunjang kemajuan wilayah Aceh Utara kedepannya.

Menggagas Wisata Islami
Tidak dapat kita pungkiri sektor pariwisata merupakan magnet yang kuat sebagai sumber alternatif untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan, sektor pariwisata terbukti mampu meningkatkan devisa negeri ini.
Banyak daerah di Indonesia yang mulai menggerakkan sektor pariwisata menjadi lebih baik. Ada yang mengedepankan wisata alamnya namun ada juga yang menggerakan dengan wisata budaya dan religinya.
Dari hal diatas sebenarnya sumber PAD yang dapat kita kelola lebih baik lagi bagi Aceh Utara adalah dengan memanajemen sektor pariwisata berbasis budaya secara berkelanjutan. Dengan melihat adanya sisa bukti dari kemegahan Samudra Pasai di wilayah ini, sektor pariwisata dapat digencarkan oleh Pemerintah Aceh Utara.
Usaha-usaha yang dilakukan adalah dengan menggalakan dan menggencarkan promosi pariwisata di tingkat nasional maupun internasional dengan tidak mengenyampingkan kearifan lokal di Aceh Utara sendiri.
Dalam Pasal 32 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan dijelaskan bahwa “Pemerintah daerah dapat mengembangkan dan mengelola sistem informasi kepariwisataan sesuai dengan kemampuan dan kondisi daerah”. Sehingga Pemerintah Kabupaten Aceh Utara memiliki andil yang besar untuk pembangunan dan pengelolaan kepariwisataan di Aceh Utara.
Dikarenakan sebagai pusat peradaban Islam tempo dulu, hal ini menjadikan wilayah ini sebagai modal pariwisata Islami di Indonesia. Bukan hanya bisa menigkatkan PAD daerah saja namun dapat meningkatkan kesejahteraan taraf hidup masyarakat itu sendiri.
Pariwisata berbasis budaya dan religi di Aceh Utara dapat dilakukan guna mengenal keanekaragaman, tradisi, kesenian dan khazanah budaya Aceh. Banyak daerah lain di Indonesia yang juga menggalakan wisata budaya, baik mengenalkan bahasa (language) kepada wisatawan, masyarakat (traditions), kerajinan tangan (handicraft), makanan dan kebiasaan makan (foods and eating habbits) musik dan kesenian (art and music), maupun sejarah suatu tempat (history of the region).
Jika saat ini banyak daerah yang ada di Indonesia maju dengan wisatanya keeksotisan alamnya, mengapa di Aceh Utara tidak dengan wisata Islaminya seperti wisata islami yang ada di Niujie, China yang merupakan salah satu khazanah budaya Islam di Tiongkok.
Dalam hal ini Pemerintah Aceh Utara dapat mencerminkan diri dari beberapa daerah yang mengedepankan wisata islami sebagai kekhasan suatu daerah. Disamping untuk memperkenalkan masa kejayaan Samudra Pasai juga untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara.

Harus Bangkit
Meski kejayaan Samudra Pasai sudah menghilang namun kita sebagai pewaris kemegahan Samudra Pasai tersebut tidak bisa hanya diam saja melihat lunturnya kemegahan tersebut secara perlahan ditelan oleh zaman. Sudah seharusnya kita memiliki konsepsi yang sama untuk membangun daerah.
Pemerintah kabupaten Aceh Utara harus merevisi kembali road map (peta rencana) pembangunan Kabupaten Aceh Utara di semua sektor guna penyelarasan dengan perkembangan global yang dipertimbangkan dan direncanakan dengan rinci. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mempromosikan kembali Samudra Pasai salah satunya adalah gencar mempromosikan Pasai sebagai kota warisan dunia (world heritage city).
Kita jangan terlalu lama terlarut dalam buaian mimpi indah masa lalu. Sudah saatnya kita harus terbangun dari tidur panjang untuk mengembalikan pusat peradaban Islam yang dahulu megah ke masa sekarang ini.
Inilah masa dimana kita membangun kembali kejayaan Samudra Pasai, dengan cara menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan yang ada sebagai warisan untuk anak cucu kedepannya. Sebab jika kita mau maka Samudra Pasai yang megah tersebut akan kembali ke masa jayanya.[]

* Penulis adalah mahasiswa Hukum Tata Negara Universitas Malikussaleh dan Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara (SDAU) Angkatan IV, saat ini aktif di KSM Creative Minority. Email: Alfiande_pii@yahoo.com



You Might Also Like

0 komentar

Beri Komentar!