SOCIAL CONTROL PEMUDA : SEBUAH REFLEKSI PERGERAKAN PEMUDA DALAM LINGKUP STABILITAS BANGSA

01.08

Oleh: Alfiandi [1] [Tulisan ini memenangkan Juara III Lomba Menulis Artikel tingkat mahasiswa oleh BEM FT Universitas Malikussaleh]

“Berikan aku sepuluh orang pemuda maka aku akan merubah dunia”
_Soekarno_

Begitulah petikan dari pernyataan The founding father negara ini Soekarno, dengan lantang menyatakan bahwa pemuda adalah ujung tombak revolusi bangsa. Mengapa mesti pemuda? Adakah kelebihan yang dimilikinya? Hal ini menjadi satu pertanyaan yang sarat makna ketika hadirnya pemuda memberikan efek strategis perkembanagan suatu komunitas dibandingkan mereka para pendahulunya.
Pemuda dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa orang muda laki-laki; remaja, sehingga memberikan makna pada kita bahwa setiap orang yang berjiwa muda akan mempunyai semangat juang yang tinggi untuk mengadakan perubahan dalam dimensi perkembangan suatu bangsa.
Jika ditinjau secara hukum, pemuda adalah manusia yang berusia sekitar 15 – 30 tahun, namun jika kita tinjau secara biologis, pemuda itu dikategorikan sebagai manusia yang dalam dirinya mengalami proses dewasa dengan adanya ciri-ciri perubahan tertentu yang terjadi dalam diri pemuda tersebut baik faktor perubahan fisik yang secara jelas kita melihatnya, tetapi jika kita tinjau dari segi  agama, pemuda itu mengalami suatu proses yang disebut fase aqil baligh bagi pria mengalami mimpi basah yang dimulai antara usia 11 – 15 tahun sedangkan bagi wanita keluarnya darah haid  di saat usia wanita tersebut beranjak antara 9 – 13 tahun.
Selain itu Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo yang merupakan  salah satu tokoh bangsa pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia yang berperan aktif dalam dua peristiwa penting yang menjadi tonggak sejarah nasional pergerakan pemuda baik dalam Manifesto 1925 maupun dalam Kongres Pemuda II  yang memberikan gambaran bagaimana hadirnya pemuda menjadi hal yang sangat urgen bagi perkembangan bangsa-bangsa besar.
Namun dewasa ini nyaris kita menghadapi situasi yang sangat jauh berbeda dengan kondisi  pemuda dahulu. Perbedaan yang sangat riskan ini muncul akibat gradasi arus perkembangan budaya yang tertanam dalam jiwa pemuda itu sediri cendrung bersifat individualistis. Dalam hidup di masyarakat pemuda yang hanya mementingkan aspek yang ada pada dirinya sendiri tanpa memberikan kontribusi yang nyata kepada khalayak ramai dengan berhubungan antar sesama anggota masyarakat (sosial relationship).

Integritas Pemuda
Pemuda adalah sosok generasi penerus yang akan menggantikan generasi pendahulunya. Hal ini meniscayakan harus adanya persiapan yang matang terhadap perkembangan integritas pemuda sendiri. Kita menyadari bahwa masih minimnya kepercayaan dari pada para pendahulunya yang dikategorikan sebagai generasi tua yang cendrung kurang mempercayai segala tindakan pemuda, hal ini dikuatkan dengan stigma bawa “yang tua berilmu, sedangkan yang muda cendrung lugu”, sehingga kian hari integritas dari peran pemuda itu mengalami kemunduran.
Kepercayaan diri dalam pribadi pemuda pun kian berkurang, dimana mereka seakan-akan takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Rasa takut ini dipicu dari aspek mental pemuda itu sendiri sehingga efek yang ditimbulkan dari rasa kurang kepercayaan diri ini pun memicu tingkat ke-kreatif-an dari para remaja menjadi tidak ada, semuanya itu berujung terhadap keterpurukan sikap idealisme dari pemuda. Banyak hal yang ditimbulkan dengan sikap pemuda yang seperti ini, salah satunya menurunya kapasitas human interest yang ada di lingkungannya dimana segala tindakan yang dilakukan oleh pemuda seperti tidak memberikan manfaat sedikitpun kepada masyarakat sekitar.
Hal ini tentu sangat berbeda ketika kita melihat sejarah  peran pemuda pada era sebelum kita, contohnya pada masa keemasan pemuda yang berani mengungkapkan rasa idealisme yang besar selaku pemuda ketika adanya sumpah pemuda, dilain hal ketika melihat bagaimana peran pemuda pada zaman awal sebelum kemerdekaan bangsa ini yaitu Soekarno dan Hatta, pada masa-masa ini pemuda selalu berkutat dengan lautan ilmu yang melihat dunia melalui lembaran-lembaran buku sehingga wajar banyak sekali pada waktu itu pemuda-pemuda yang memiliki pemikiran gemilang untuk membangun bangsa, bukan hanya dari segi keilmuan yang dimilikinya namun nilai-nilai etika terbentuk dengan baik.

Lihatlah pemuda pada era 1908 ketika pemuda mulai bersatu dengan lahirnya organisasi Budi Oetomo di Jawa yang menghendaki persatuan untuk melahirkan semangat perubahan di dunia pendidikan, dan pada era 1928 ketika lahirnya sumpah pemuda sebagai refleksi rasa persatuan antara sesama pemuda untuk mengakui status mereka sebagai satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat terpisahkan, pada 1945 ketika keinginan pemuda untuk merdeka dari belenggu penjajahan, pemuda malakukan prosesi penculikan Soekarno dan Hatta ke Rangasdengklok, pada era 1966 pergolakan menurunkan rezim Soekarno yang dianggap telah menyimpang dari nilai-nilai luhur perjuangan kemerdekaan, pemuda pun berani dengan lantang menyerukan perubahan, hingga berujung pada 1998 dengan didudukinya gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa dalam hal  pemuda yang ingin menuntut reformasi dan dihapuskannya "KKN" (Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme) di setiap lembaga negara.

Bagaimanapun juga kita cemburu akan semangat pemuda dahulu yang selalu menjunjung tinggi rasa optimisme dalam dirinya yang memicu untuk perkembangan bangsa, berbeda  dengan pemuda masa kini yang cendrung sangat pesimis terhadap kemampuannya sendiri yang lambat laun membuat mental dan sikap pemuda masa kini menjadi lemah.

Harus ada perubahan
Penulis menyadari bahwa proses disintegrasi sosial ini timbul dari adanya suatu proses perkembangan zaman yang disebut sebagai arus globalisasi atau ada juga yang menyebutnya modernisasi, namun yang harus kita ingat adalah globalisasi tersebut bukan bermakna harus rusaknya sendi-sendi keluhuran dalam diri permuda yang sangat fundamental untuk membangun kepribadian pemuda.
Globalisasi hanya suatu proses perkembangan zaman sebab masyarakat akan selalu berubah mengikuti arus perkembangan yang terjadi dan sifat manusia selaku makhluk hidup adalah harus menyesuaikan diri dengan habitatnya itulah yang disebut siklus kehidupan, namun dalam hal yang positif perubahan tersebut bisa diterima sedangkan untuk hal yang negatif tentu saja menjadi permasalahan sehingga harus adanya perubahan sejak dini agar hal tersebut tidak akan berdampak buruk bagi pribadi pemuda. Penulis melihat perubahan yang terjadi dewasa ini jika ditinjau dari aspek sosiologi itu berasal dari unlinear theories of evolution bahwa manusia dan masyarakat/pemuda, mengalami perkembangan sesuai tahap-tahap tertentu dan dikategorikan sebagai perubahan yang dikehendaki (intended change) sebab mau tidak mau globalisasi akan muncul dari perkembangan zaman yang kian maju, namun kita harus mengantisipasi agar perubahan ini tidak menyimpang dari norma-norma yang ada di suatu masyarakat tertentu khususnya di Indonesiam agar tidak munculnya perubahan yang tidak dikehendakai (unintended change) seperti maraknya arus westernisasi akhir-akhir ini.
Oleh sebab itu perlu adanya keserasian dan harmonisasi dalam masyarakat (sosial equilibrium) agar pemuda dapat saling mamahami satu sama lainnya sehingga peran pemuda tidak mengalami pergeseran. Pergeseran tersebut bisa kita amati dari tingkah laku pemuda itu sendiri, jika pada waktu dahulu pemudalah yang selalu menciptakan perubahan agar bangsanya maju tetapi sekarang ini malah pemuda sendiri menjadi penuntut perubahan yang selalu menyuarakan asprasinya melalui aksi demonstrasi yang bukan berasal dari hati nurani.  Suatu demonstrasi yang berlandaskan materi dan penulis menyebutnya sebagai “gerakan mata air” yang setelah berkoar-koar menyampaikan orasi di terik matahari untuk menyuarakan aspirasi orang lain dan akan mendapat imbalan setelah itu, bukan berdasarkan ketulusan dalam pribadinya untuk mengadakan perubahan yang penulis sebut juga sebagai “gerakan air mata” yang menyampaikan suatu kebenaran meskipun pahit akan diderita kemudian dan inilah yang dikategorikan sebagai suatu gerakan sosial (soisal movement) yang berperan sebagai social control bagi perkembangan bangsa-bangsa besar dikemudian hari. Sebab bangsa yang besar akan semakin besar apabila memiliki pemuda yang mampu berpikir dengan kapasitas ilmunya dan berjiwa besar untuk berbagi dan berkontribusi untuk sesama.

Peran mahasiswa sekarang
Pemuda yang memiliki daya intelektualitas yang tinggi didominasi oleh para mahasiswa yang memiliki kemapuan berfikir yang luwes dalam segala hal, sebab antara pemuda dan mahasiswa itu adalah dua hal yan tidak dapat dipisahkan. Lihatlah pemuda dahulu yang kebanyakan oleh mahasiswa, namun bukan berarti mahasiswa itu senantiasa berbangga hati akan kebesaran nama pada waktu silam.
Tujuan mahasiswa itu sendiri harus memiliki arah yang jelas agar kedepannya mahasiswa dapat menjadi agen of change dalam dinamika sosial di masyarakat, mahasiswa yang benar-benar mampu mengendalikan fikirannya agar tidak terjebak kedalam pusaran arus politik busuk yang selalu mengajarkan hal-hal yang kotor pada mahasiswa.
Mahasiswa harus memiliki rasa idealisme yang tinggi untuk menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dalam pergerakannya sebab mahasiswa yang benar-benar memiliki rasa idealisme yang tinggi maka dia akan mengembalikan kembali cerminan wajah pergerakan pemuda pada masa yang silam.
Rasa idealisme tersebut dapat diaplikasikan dalam konteks kehidupan mahasiswa itu sendiri di masyarakat, mulai dari membangun interaksi sosial yang baik dalam masyarakat, turut aktif dalam membangun konsolidasi antar mayarakat agar keharmonisan hidup di masyarkat terjalin dengan baik juga perlunya menumbuhkan sikap aktif dan kritis dalam pribadi mahasiswa untuk selalu terlibat dalam kegiatan akademis maupun praktis yang semuanya itu dikategorikan sebagai tindakan yang bernilai positif dalam jiwa mahasiswa tersebut.

Penutup
Tawaran akhir dari penulis untuk memecahkan masalah sosial yang terjadi dalam diri pemuda adalah harus adanya langkah-langkah yang bersifat preventive antar sesama, baik yang dilakukan pemerintah dengan mensinergikan peran-peran pendidik yang mau dan mampu untuk memberikan perubahan. Bukan membatasi ruang gerak pemuda untuk takut berkarya dengan ancaman serta aturan-aturan yang mengikat sehingga menimbulkan stigma negatif dalam fikiran pemuda.
Perencanaan sosial (social planning) dalam pembentukan karakter pemuda pun harus ditanamkan sejak dini dengan mendorong semangat pemuda untuk berkreasi dan berperestasi agar pemuda selalu aktif ke arah perubahan yang lebih baik. Sebab pemuda  dimanapun dan kapanpun ia berada, merupakan  harapan bagi bangsanya. Harapan yang muncul dari pemikiran yang matang untuk perbaikan dan kemajuan bangsa dan kesemuanya ada ditangan pemudaSudah saatnya pemuda Indonesia tak perlu lama lagi menunggu untuk proses perubahan sebab perubahan tidak akan muncul dari penantian yang ditunggu tetapi perubahan hadir dari semangat yang ada dalam diri pemuda itu sendiri.[] 

 
[1] Penulis adalah mahasiswa Hukum Tata Negara Universitas Malikussaleh dan siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara (SDAU) Angkatan IV. Saat ini aktif di KSM Creative Minority. Email:alfiande_pii@yahoo.com 

You Might Also Like

0 komentar

Beri Komentar!